Sawit Sukseskan Program transmigrasi

Wilayah transmigrasi berbasiskan sawit yang semula dicap beberapa pakar sebagai wilayah kemiskinan dan keterbelakang, sekarang banyak yang sudah beralih menjadi pusat kemajuan ekonomi baru. Tidak cuma sanggup memburu kemajuan ekonomi wilayah sekelilingnya, bahkan juga wilayah transmigrasi sudah jadi lokomotif ekonomi wilayah.

Sebelum membaca lebih lanjut, kami juga memiliki beberapa informasi menarik seputar Pabrik Kelapa Sawit untuk mengenal lebih jauh bagaimana minyak sawit di olah.

Program Transmigrasi sebagai salah satunya program pemerintahan terutamanya pada Zaman Orde Baru yang mempunyai tujuan untuk membuat pusat-pusat kemajuan ekonomi baru di luar Pulau Jawa. Pulau Jawa dan Bali sebagai pengirim transmigran paling besar yang ditaruh pada penjuru/pedalaman kabupaten-kabupaten di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan Papua. Sampai tahun 1985, jumlah keluarga yang ditransmigrasikan capai sekitaran 1 juta rumah tangga.

Sampai tahun 1990-an program transmigrasi banyak dinilai beberapa pakar karena rupanya tidak berhasil berkembang jadi pusat-pusat kemajuan ekonomi baru, bahkan juga malah jadi kantong-kantong kemiskinan baru di luar Pulau Jawa. Hingga beberapa pakar saat itu banyak yang memandang program transmigrasi ialah perpindahan kemiskinan. Pemicunya, karena pertanian pangan sebagai usaha dasar keluarga transmigran banyak yang tidak berkembang karena lokasi dipelosok, akses jalan jelek, hingga input usaha tani susah masuk dan hasil pertanian susah ditawarkan.

Foto wilayah transmigrasi yang keterbelakang dan miskin mulai berbeda semenjak tahun 2000. Peningkatan Kerja sama kebun sawit di antara petani transmigran dengan korporasi (swasta dan BUMN) di mana akses jalan dibuka, input ada dan marketing TBS terjaga, sudah mengubah banyak wilayah transmigrasi.

Seperti laporan Kementerian Transmigrasi dan Tenaga Kerja RI (2014) sampai tahun 2013 lebih dari 50 teritori transmigrasi sudah beralih menjadi teritori kemajuan ekonomi baru berbasiskan sawit. Salah satunya Sungai Bahar (Jambi), Pematang Panggang dan Paninjauan (Sumatera Selatan), Sosa (Sumatera Utara), Arga Makmur (Bengkulu), Sungai Pasar dan Lipat Kain (Riau), Paranggean (Kalimantan Tengah), Mamuju (Sulawesi Barat), dan teritori lain.

Wilayah transmigrasi yang semula dicap beberapa pakar sebagai wilayah kemiskinan dan keterbelakang, sekarang banyak yang sudah beralih menjadi pusat kemajuan ekonomi baru. Tidak cuma sanggup memburu kemajuan ekonomi wilayah sekelilingnya, bahkan juga wilayah transmigrasi sudah melebihi perubahan wilayah sekitaran yang bukan teritori transmigrasi.

Teritori transmigrasi berbasiskan sawit, sudah jadi lokomotif ekonomi wilayah. Warga perkebunan sawit jadi pasar untuk beberapa hasil pertanian pangan lokal bahkan pasar untuk produk yang dibuat perkotaan. Ini memiliki arti teritori transmigrasi semakin hari semakin inklusif, yang berpengaruh luas menarik perubahan bidang dan wilayah sekitaran.

Sudah pasti, perubahan wilayah transmigrasi berbasiskan sawit itu memunculkan beragam masalah sosial ekonomi baru disekelilingnya, satu diantaranya tertimpangan perkembangan di antara wilayah transmigrasi yang semakin maju dengan wilayah sekitaran sebagai relatif ketinggalan (keadaan kebalik dari sejak awalnya wilayah transmigrasi dibuka). Tetapi itu semua masih juga dalam proses pembangunan. Dengan semakin inklusifnya perkembangan wilayah transmigrasi berbasiskan sawit, dengan bertahap akan menarik pemercepatan perkembangan wilayah ketinggalan sekelilingnya. Perlu waktu dan perlu bersabar.