Penyedia Jasa Joki Skripsi Beberapa Anggota Kami adalah Dosen

Gambaran skripsi sebagai sebuah momok menakutkan di dalam jenjang perguruan tinggi, sudah pasti bukanlah suatu hal yang baru bagi masyarakat Indonesia.

Dalam narasi terburuknya, skripsi sering diibaratkan sebagai sebuah fase paling akhir yang rasanya tak bisa saja bisa dilewati dengan mudah, jikalau sesungguhnya tidak bisa dilewati sama sekali.

Entah sebuah anugerah atau justru kutukan, stigma kelam berkenaan proses penulisan skripsi tersebut, ternyata bisa jadi tempat yang subur bagi berkembangnya ‘industri’ perjokian skripsi di tanah air.

Dengan sejumlah budget dan segenggam nyali, para mahasiswa tingkat akhir yang ‘tersandung’ oleh sulitnya memilih topik, referensi, dan segala tetek bengek berasal dari tugas ‘sakral’ tersebut, sedikit banyak bisa memperpanjang harapannya untuk lulus dan mendapat gelar, meski tak kudu mengerahkan 100% tenaga dan pikiran.

Namun, lumayan berlainan dengan prilaku penjaja dan pembeli di dalam industri penyedia jasa lainnya, joki skripsi ternyata butuh keterlibatan dan kerjasama berasal dari si klien, demi tercapainya keinginan berasal dari kedua belah pihak.

Karena tersedia tiga pihak, saya, mahasiswa, dan dosen. Kalau mahasiswanya (klien) enggak bisa presentasi, saya katakan, yang lulus terhitung ada. Tapi yang bisa nilai A terhitung ada. Ini bisa lancar terhitung tergantung mahasiswanya,” tutur Boy (nama samaran), seorang joki kti kedokteranĀ  asal Yogyakarta yang bersedia terhubung rahasia

Proses penentuan klien

Meski berbasis di Kota Pelajar, perihal selanjutnya tak sesudah itu menyebabkan Boy jadi urakan di dalam terima klien. Sebaliknya, ia justru terbilang terlampau selektif di dalam memilih calon klien yang meminta pemberian jasanya.

“Untuk klien kita saring dulu. Pertama berasal dari jurusan, enggak semua jurusan bisa kita tangani. Biasanya kita tangani yang sosial. Kalau apabila teknik, atau hal-hal yang terkait dengan laboratorium, kita enggak bisa. Juga berasal dari tingkat kesulitannya,” tuturnya.

Tak henti sampai di situ, Boy terhitung menjelaskan bahwa paham latar belakang dan pembawaan si calon klien merupakan keliru satu bahan pertimbangan yang terlampau perlu untuk diperhatikan, sebelum saat ia berani menyanggupi ‘transaksi gelap’ tersebut.

“Kita terhitung menyaksikan pembawaan berasal dari (calon) kliennya. Dari obrolan awal, kan, kelihatan seperti apa. Karena untuk pembuatan penelitian kita enggak bisa kayak membuat roti, kudu tersedia proses diskusi, mahasiswanya kudu aktif, jikalau dia tetap enggak nangkep, kita terhitung enggak nerima,” ungkap Boy.
Boy pun tidak segan menunjukkan penggalan syarat dan ketentuan yang sering ia sampaikan terhadap calon klien, sekaligus sebagai keliru satu alat penentuan klien. Menurutnya, keliru satu tugas berasal dari klien adalah perihal dengan pencarian dan pengumpulan data penelitian dan juga memeriksa dan berikan masukan atas draf yang udah dibuat oleh timnya.

Selain itu, ia pun meyakinkan bahwa rahasia klien terjamin, dan juga draf yang dibuat untuk satu klien tidak bakal digunakan untuk orang lain.

“Dia (teman sesama joki) udah miliki dua anak buah. Pendapatan bersihnya meraih Rp 50 juta per bulan,”

Penentuan tarif harga

Meski tidak bisa berikan paham kumparan soal jumlah klien yang udah mereka tangai sampai selagi ini, Boy menyebutkan bahwa jasanya berkisar berasal dari Rp 3,4 sampai Rp 4,5 juta untuk satu skripsi, tergantung berasal dari tingkat kesusahan berasal dari skripsi tersebut.

Selain itu, ia pun memasukkan lebih dari satu perihal lain seperti jumlah referensi, waktu, dan juga akreditasi universitas berasal dari si klien itu sendiri ke di dalam hitung-hitungan penentuan tarif harga.

“Bisa lebih mahal berasal dari itu, jikalau pesan terlebih lebih banyak. Tapi jarang tersedia yang sudi (dengan harga) di atas itu. Kompetitor, kan, harganya banyak yang di bawah kami,” jelasnya.

“Tapi lebih dari satu universitas kita enggak bisa (bantu). Ada lebih dari satu universitas tertentu yang ketat, kita enggak bisa bantu dan kita sampaikan di awal. Karena tak sekedar standarnya ketat, dosennya itu terlampau nanya ke mahasiswanya, jikalau dia gagal segera tukar proposal lagi. Jadi model-model universitas begitu kita enggak bisa,” jadi boy.

Sementara itu, John (nama samaran), keliru satu joki skripsi di kota Bandung, menyebutkan bahwa pendapatan berasal dari profesi selanjutnya lumayan menggiurkan. Menurut penuturannya, di dalam lingkaran sesama joki skripsi di kota Bandung, pendapatan seorang penyedia jasa selanjutnya bisa meraih puluhan juta rupiah.
Dia (teman sesama joki) udah miliki dua anak buah. Pendapatan bersihnya meraih Rp 50 juta per bulan,” ujar John menceritakan keliru seorang temannya yang berprofesi sebagai seorang joki skripsi.

 

Lebih memilih melayani pembuatan thesis

Ada yang menarik berasal dari penuturan Boy. Kepada kumparan, Boy miliki tim dengan anggota yang lumayan banyak, yaitu 10 sampai 11 orang. Boy terhitung memberi tambahan bahwa dia dan timnya sesungguhnya lebih melacak pasar masahasiswa pascasarjana (S2) yang bakal menyebabkan thesis.

“Beberapa (anggota), sih, dosen memang,” jadi dia.
Hal selanjutnya dipilihnya bukan tanpa alasan. Menurutnya, jenjang sarjana (S1) itu jauh lebih ketat dan prosesnya lama, jikalau dibandingkan dengan S2. Di samping itu, ia menyebutkan bahwa kebanyakan mahasiswa S2 udah bekerja dan lebih paham dengan keadaan lapangan. Sementara, perihal itu menurutnya tidak dimiliki oleh biasanya mahasiswa S1.

Pengalaman kami, jikalau yang S1 itu dia banyak yang enggak paham dengan metodologi. Jadi terlampau banyak pertanyaan yang mestinya selesai selagi dia kuliah,” lanjut Boy.
Dengan mekanisme yang diterapkannya selama ini, sepak terjang Boy dan 10 orang di timnya sebagai joki skripsi bisa dibilang mulus. Dari pengakuannya, tidak dulu sekali pun usahanya selanjutnya ketahuan dan jadi bulan-bulanan pihak kampus.

“Makanya kita seleksi di awal untuk antisipasi itu. Masalahnya, kan, gini, jikalau mahasiswa itu bisa saja IQnya enggak nyampe, namun kita udah buatkan bagus, itu justru bakal ketahuan,” paham Boy.
“Maka berasal dari itu kita enggak terima orang yang sejak awal kita ajak ngobrol udah enggak paham atau malas, itu udah paham enggak bakal kita terima. Kami bakal cari 1001 alasan untuk menolak (permintaan) orang itu,” ujarnya.

Meski prosedur yang mereka terapkan untuk memilih klien terdengar lumayan rumit, Boy mengaku bahwa semua proses selanjutnya dikerjakan secara online dan tidak dulu tersedia tatap muka.

Well, perihal pemaparan Boy dan John, Kedatangan fenomena joki skripsi ini sudah pasti tidak bisa cuma dicermati secara setengah-setengah, misalnya, dengan menyalahkan para penyedia jasa saja. Karena, bagaimana pun mereka bisa bergerak sebab adanya keinginan berasal dari pelanggan.

Daripada repot-repot mengeluarkan uang dengan nominal yang banyak cuma untuk skripsi, kenapa kita enggak nikmati sendiri semua prosesnya? Ya, tak sekedar sebab cuma terjadi sekali seumur hidup, kita terhitung bakal terasa lebih puas dengan hasil yang didapat, entah itu baik atau buruk.

Karena terhadap akhirnya, semua proses yang kita jalani selama kuliah bakal jadi cerita tersendiri membuat kita dan teman-teman selama di kampus. Enggak mau, dong, anda memberikan cerita bohong terhadap rekan dan orang paling dekat secara berulang-ulang?