Pengertian Sick Building Syndrom


Sumber gambar: keselamatankeluarga.com

Sick Building Syndrom atau yang dianggap sebagai sindrom bangunan sakit ini merupakan kondisi ketika seseorang memeroleh efek buruk dari suatu bangunan yang mengganggu kenyamanan sampai kesehatan. Kondisi tersebut dipicu oleh faktor yang berada di dalam ruangan, di luar ruangan, dan psikologi seseorang yang menempati bangunan atau ruangan tersebut.

Faktor dari dalam bangun atau ruangan yang memicu kondisi tersebut, seperti :

  1. Penggunaan AC  yang sudah kotor dan jarang dibersihkan akan memperbanyak bakteri dan menyebarkan bakteri tersebut.
  2. Karpet yang jarang dibersihkan semakin menjadi sarang bakteri.
  3. Bahan kimia dari bangunan, seperti cat tembok, pengharum ruangan, insektisida, dan lainnya.
  4. Penggunaan alat elektronik penyebab radiasi secara berlebihan, seperti: mesin fortocopi, printer, laptop, HP.
  5. Pencahayaan ruangan yang terlalu terang atau pun kekurang terang.
  6. Ventilasi udara yang buruk menyebabkan sirkulasi udara juga buruk.
  7. Asap rokok.
  8. Keramaian, karena tidak semua orang dapat beradaptasi dengan suasana yang ramai dipenuhi banyak suara.

Faktor psikologis penghuni bangunan atau ruangan, seperti:

  1. Tingkat stres
  2. Pola pikir
  3. Kelelahan
  4. Kurang beradaptsai dengan kondisi ruangan
  5. Kurangnya berkomunikasi dnegan penghuni ruangan

Faktor dari luar bangunan atau ruangan, seperti:

  1. Asap kendaraan, asap rokok, dan polusi di luar ruangan yang masuk melalui ventilasi udara.

Faktor-faktor tersebutlah pemicu ternjadinya sick building sydrom pada seseorang. Jika kondisi tersebut terjadi, seseorang akan mengalami beberapa permasalahan, diantaranya: tidak nyaman ketika berada di dalam ruangan, iritasi mata, hidung, kulit, tenggorokan kering, sesak napas, batuk, mual, pusing. Pada umumnya, kondisi tersebut rentan terjadi pada pekerja kantor. Faktor bangunan sebuah kantor menjadi hal penting untuk memberikan kenyamanan karyawan selama bekerja sehingga lebih produktif dan hambatan lebih terminimalisir. Konstruksi dan corak bangunan yang monoton dan terkesan kaku serta situasi selama bekerja semkain meningkatkan resiko terjadinya sindrom tersebut.

Ketika seseorang mengalami sick building syndrom, dianjurkan untuk sejenak keluar dari ruangan untuk melakukan rileksasi agar gejala-gejala sindrom dapat berkurang dan melanjutkan aktivitasnya. Karena sindrom tersebut diakibatkan oleh kondisi bangunan sehingga cara eektif untuk mengatasi ketika mengalami sindrom tersbeut ialah harus keluar dari ruangan tersebut. upayakan ketika berada di luar ruangan lakukan rileksasi sejak, seperti mencuci muka, minum air putih, dan makan camilan. Jika hal tersebut tetap trejid secara berulang solusi yang dapat dilakukan yakni mendekorasi ruangan yang disesuai dnegan kenyamanan anda, dan menempatkan alat-alat elejtronik yang memicu radiasi sebisa mungkin jauh dari anda, dan selalu rutin membersihkan ruangan, serta menjalin interaksi dengan lingkungan runagan, seperti aktif berkomunikasi denga keluarga apabila di dalam rumah, dan berkomunikasi dengan teman kerja ketika di kantor. Komunikasi tersebut dapat meminimalisir tingkat stres ketika bekerja dan dapat mencegah terjadinya sindrom tersebut. Semoga bermanfaat